Selasa, 12 Juli 2011

RENUNGAN; BILA AJAL TIBA

Sudah menjadi keyakinan dalam kehidupan kita, bahwa segala yang ada permulaannya, tentu akan ada penghabisannya, setiap yang punya awal, mesti akan punya akhir, tidak ada keabadian dalam kehidupan dunia ini, semuanya datang dan pergi silih berganti, berubah oleh pergeseran masa dan pertukaran waktu. Demikianlah kalau kita mau merenungi dari alam di sekitar kita, sejak dari kehidupan tumbuh-tumbuhan, binatang, sampai kepada kehidupan kita, makhluk bernama manusia.
Lihatlah kita manusia misalnya, dimulai sejak kita terlahir ke alam ini, keluar dari rahim ibu, menjadi bayi yang merah tidak berdaya, untuk kemudian berangsur meningkat menjadi anak-anak. Dari kehidupan anak-anak berubah kita lagi menjadi remaja, dengan segala keceriaan dan kelincahannya, dan dari masa remaja, naik lagi kita memasuki usia dewasa, untuk kemudian berangsur memasuki hari tua.
Lalu… setelah kita memasuki hari tua, sehari, seminggu, sebulan, setahun, sampailah kita kepada batas waktu yang telah ditentukan oleh Allah, yang dinamakan ajal dan bertemulah kita dengan yang disebut maut. Ini merupakan kepastian dalam kehidupan.
Kalau saja kita mau merenung, perubahan-perubahan yang terjadi pada diri kita, seharusnya membuat kita insaf dan sadar. Bila maut sudah menjemput kita, apakah selesai sampai disitu, belum. Kalau lahir merupakan perpindahan hidup dari alam rahim ke alam dunia, maka mati hakikatnya perpindahan hidup dari alam dunia ini ke alam kehidupan berikutnya yang dinamakan alam barzah.
Andai kata hidup cuma sekali, secara moral kita sanggup berkata, alangkah tidak adilnya Tuhan, kenapa? Dalam kehidupan ini kan… aneka ragam terjadi, ada orang dzlaim, ada orang yang didzalimi, ada orang yang membunuh, ada orang terbunuh, ada orang yang kaya, ada orang miskin, ada orang yang jujur, ada orang yang menghalalkan segala cara, sehingga banyak ketidakadilan yang terlepas dari pengadilan dunia. Andai kata hidup cuma sekali, tidak ada hidup setelah hidup yang sekarang ini, bagaimanakah nasib mereka yang lepas dari pengadilan dunia ini. Alangkah tidak adilnya Allah, andai kata tidak ada kehidupan setelah hidup sekarang ini, tentulah akan terjadi, dimana orang akan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, yang penting kan… saya kaya, yang penting kan… saya punya kedudukan tinggi, kalau perlu jilad atas, sikut kiri-kanan, kalau perlu injak orang bawab, injak yang bawah. Ini perinsip orang komunis, dan pantas…, karena mereka tidak percaya kepada kiamat, pantas…karena mereka tidak percaya kepada hidup sesudah hidup yang sekarang.
Sebagai muslim yang percaya bahwa kiamat pasti ada, akhirat pasti ada, hidup hanya cuma sekali, maka kalau kita dzalim, kalau kita berbuat aniyaya, kalau kita melakukan korupsi, kalau kita merugikan orang lain, boleh jadi kita terlepas dari pengadilan dunia, tapi ingatlah bahwa kita tidak akan pernah lepas dari pengadilan Allah, pengadilan Qodhi Rabbul Jalil, dimana kita akan diadili seadil-adilnya, dan tidak ada perbuatan salah yang bagaimanapun kecilnya tidak akan lepas dari pengadilan di akhirat itu nanti.
Pantas saja…. kalau suatu hari malaikat jibril dating menesehati Rasulullah SAW, yang artinya juga menesehati kita semua. Apa kata malaikat jibril kepada Baginda Nabi.
يَا مُحَمَّدْ إِسْمَ شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ
Hai… Muhammad hiduplah semau kamu, tapi jangan lupa, kamu pasti akan mati, Dan mati itu bukan akhir segalanya, dia babak baru bagi kehidupan selanjutnya, silahkan hidup menurut mau mu, tapi jangan lupa kau pasti akan mati.
وَعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌ بِهْ
Kerjakan apa saja yang kau mau, (kalau kau menghalalkan segala macam cara, persilahkan kau kerjakan), tapi jangan lupa kau akan mendapatkan balasan dari seluruh amal perbuatan mu.
وَأَحْبِبْ ماَ شِئْتَ فَإِنَّكَ مُفَرِّ قُهُ
Dan cintailah apa yang mau kamu cintai, (kau cintai anak-istri mu, silahkan..., kau cintai harta-benda mu, silahkan..., kau cintai pangkat dan jabatan mu, persilahkan...), tapi jangan lupa, kau pasti akan berpisah dan meninggalkan segala apa yang kau cintai itu.
Apa artinya ini buat kita, ternyata setelah maut menjemput kita, ada kehidupan setelah hidup sekarang ini. Setelah kiamat datang, kau akan diminta pertanggung jawab setelah kehidupan sekarang ini.
Oleh karena itu, kehidupan akhirat bukanlah dongeng dan tahayul, bukan khurafat dan hayalan. Kehidupan akhirat, hari kiamat adalah kebenaran dan kepastian. Dalam surah al-Hajj ayat ke 7 Allah SWT menyatakan :
Artinya : “Dan Sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya; dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur”
Nah….. kalau kita sudah yakin, bahwa kiamat sesuatu yang pasti adanya, akhirat sesuatu yang pasti adanya, dari mana pembicaraan kiamat itu kita mulai, tentu dari kita. Marilah kita memulai merenungi dari proses hidup ini, sampai kita memasuki kiamat,
Tidak ada makhluk secantik manusia, dari seluruh makhluk yang diciptakan Allah itu, manusia fi ahsani taqwin (dalam bentuk yang paling sempurna), dari susunan biologis, sampai kemampuan berfikir. Kesempurnaan hidup manusia di topang oleh dua unsur pokok, perama: unsur jasmani, dan kedua: unsur rohani (jasad dan roh). Jasad kita, kalau sudah ditinggalkan oleh ruh, tidak bisa berbuat apa-apa.
Muslim dianjurkan banyak-banyak mengingat mati dalam kehidupan, mengingat mati sesungguhnya akan mendorong manusia untuk bekerja lebih tekun, sebagaimana yang dicontohkan oleh Umar bin Khattab, tatkala ada perintah untuk berhijrah…..
Apa yang membuat orang takut mati, (1) dia tidak tahu bagaimana kehidupan setelah mati (alam kubur gelap, alam kahirat gelap) sehingga dia bingung, kemudian takut. (2) boleh jadi karena bayang-banyangan dosa yang pernah dia kerjakan di dunia ini, dia tertawa, bahagia diatas tumpukan dosanya, merasa segan berpisah dengan kehidupan ini, sehingga, boleh jadi maut merupakan sesuatu yang ditakutkan benar adanya dalam kehidupan. Tapi bagaimana pun takutnya, tidak ada tempat lari dari maut.
Dalam ayat lain Allah SWT menjelaskan :
أَيْنَمَا تَكُنُوْ يُدْرِكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْكُنْتُمْ فِي بُرُجٍ مُسَيَّدَهْ
Artinya : “Dimana saja kamu berada (dalam benteng yang paling tangguh sekalipun) maut pasti akan datang menjemput kamu”
Nah… Bagaimana caranya maut menjemput kita? Bila datang dia, sang malaikat pencabut nyawa, malaikat Izrail namanya, hendak mengambil ruh kita. Dalam kondisi seperti itu, terbagilah manusia dalam dua bagian besar, pertama, yang menghadapi sakaratul maut itu dengan Husnul Khotimah (baik diakhirnya) sehingga pada saat ruh tatkala berpisah dengan jasadnya, kelihatan dia seperti senyum, mukanya cerah, bahkan sebelum itu boleh jadi dia sempat meninggalkan pesan-pesan yang baik, ada yang sempat baca tahlil, ada yang sempat baca al-Qur’an, sekalipun demikian, saat ruh mau keluar, sakitnya tiada tara. Rasulullah SAW dikala beliau hendak berhadapan dengan sakaratul maut, diceritakan “mencelupkan tangannya ke dalam gelas berisi air, lalu mengusapkannya ke mukanya, seraya berdo’a : Ya Allah mudahkan saya dalam mengahdapi sakarat ini. Beliau juga mengatakan bahwa sakitnya sakaratul maut sama dengan 300 kali bacokan pedang, sehingga kita diajarkan do’a, diantara do’a selamat “Allahumma hawwin alaina fi sakaratil maut” (Ya..Allah mudahkan saya dalam menghadapi sakaratul maut itu). Tatkala ruh mau keluar dari jasad, mata masih mengikuti ruh itu.
Adapun golongan kedua tatkala berhadapan dengan sakaratul maut mendapatkan Syu’ul Khotimah (jelek diakhirnya). Setelah ruh berpisah dari badan, maka tinggallah jasad, ditangisi oleh orang yang kita tinggalkan, sehingga kepada putrinya Fatimah Rasulullah SAW, tatkala mau dijemput oleh malaikat maut, beliau berkata kepada putrinya: “Fatimah…kamu tahu siapa yang datang, Fatimah menjawab saya tidak tahu abah…yang datang itu Haadzimul Lazza (itu dia yang menghacurkan seluruh kesenangan dunia) wa qati’u syahwat (yang memisahkan kita dengan seluruh yang kita cintai), dia malaikat maut Fatimah.
Diuruslah jasad kita, dimandikan, sebagaiman mestinya, dikafani dengan kain putih tiga lembar, itu yang kita bawa kembali ke tempat asal kita, harta yang banyak, isteri yang cantik, anak yang lucu, tidak ada yang menyertai kita, kain putih 3 lembar saja, diiringkan kita ke arah kiblat, orang mensholati kita, kemudian upacara pelepasan, berangkat kita meninggalkan anak, isteri, suami, kampung halaman, tanah air, bahkan alam dunia ini. Selamat tinggal alam beserta isinya, saya akan kembali ke tempat asal saya, dan akan mempertanggung jawabkan semua perbuatan yang saya lakukan di alam dunia ini.
Manakala upacara pelepasan selesai, selesailah sudah…dimasukkan kita ke keranda jenazah, dibawalah kita ditempat peristirahatan terakhir…yang luasnya tidak lebih dari 2 x 1 meter. Gumpalan tanah akan menjadi bantal kita, dibaringkan kita kearah kiblat. Orang-orang akan pulang ke rumahnya masing-masing, masuklah kita ke alam selanjutnya yaitu alam barzah atau alam kubur, apa selesai hidup sampai disitu “tidak”.
Semoga Allah SWT senantiasa menyayangi kita, memberikan tempat yang terbaik disisinya, dan semoga di akhir hayat kita nanti menjadi Husnul Khotimah, ditempatkan pada tempat yang terbaik dan dikumpulkan bersama orang-orang yang dicintainya. Amien Ya Rabbal ‘Alamien.

Read More..

Jumat, 24 September 2010

BILA DO’A TAK TERJAWAB

Satu hari ketika ulama besar bernama Al-Imam Al-Faqih Abu Lais tengah berjalan-jalan di dekat kota Bashrah, berkumpullah sekelompok orang di dekat beliau, mereka datang mengajukan satu pertanyaan…imam..kami ingin bertanya di dalam Al-Qur’an itu Allah SWT menjelaskan Ud’uni Astajiblakum (berdo’alah kepada Ku maka akan Aku jawab do’a mu, mintalah kepada Ku akan Aku kabulkan permintaan mu) itu dan begitu janji Allah dalam Al-qur’an. Kami (mereka) sudah lama berdo’a kepada Allah, kenapa sampai sekarang do’a kami belum dikabukan, katanya jika kamu berdo’a maka akan aku kabukan..itu janji Allah, pagi siang, sore, malam..terus berdo’a, tapi nyatanya do’a kami sampai sekarang belum dikabulkan…ini bagaimana Imam ? apa Al-Qur’an salah, apa Tuhan pura-pura tidak dengar atau do’a kami terbalik….sebenarnya sepele aja ini, do’a tidak di dengar oleh Allah, permohonan tidak dikabulkan oleh Allah, tapi sebenarnya kalau kita mau merenung “kemalangan apa yang paling besar dalam kehidupan ini, selain dari pada kalau permohonan dan do’a kita sudah tidak dihiraukan oleh Allah” artinya hidup sudah tidak diopeni/tidak dihiraukan oleh Allah.
Menanggapi pertanyaan ini Imam Al-Faqih Abu Lais tersenyum kemudian berkata: “tuan-tuan tahu kenapa do’a tuan-tuan tidak mau dijawab, permohonan tidak dikabulkan, ‘tidak tahu”. Allah sudah tidak memperdulikan tuan-tuan ini” mereka menjawab: kami tidak tahu tuan, karena itu kami bertanya” Al-Imam Al-Faqih mengatatakan:
Begini..hati tuan-tuan itu mati, dari hati yang mati cenel tidak nyambung kepada Allah, maka bagaimana mungkin do’a tuan-tuan dikabulkan ? hati mu mati..pantai kalau permohonan tidak dipenuhi, pemintaan tidak dikabulkan, do’a tidak dijawab.

Dari hati yang mati ini getaran tidak akan sampai ke Hadratullah Azza Wajalla, nah..ini juga penyakit yang harus kita waspadai, tatkala hati mati, jasad masih hidup, artinya jadilah kita bangkai berjalan di hadapan Allah swt. Sementara kita disibukkan dengan menggali berbagai macam jenis obat penangkal penyakit dzahir, dan kita kurang perhatian mencari obat penangkal penyakit banthin yang kalau diserang penyakitnya menghacurkan kehidupan abadi diakhirat nanti.
Perkembangan ilmu kedokteran, nyata benar diikuti dengan perkembangan jenis-jenis penyakit, makin maju ilmu kedokteran makin modern penyakit, dulu kita tidak kenal yang namanya aids, tidak kenal kencing manis, lever.
Kemudian mereka bertanya lagi: “yang menyebabkan hati kami mati apa Imam?” beliau menjawab :
Pertama :
Yang menyebabkan hati mu jadi mati, kamu kenal benar kepada Allah, tapi haknya untuk disembah, kewajiban untuk menyembah, tidak pernah kamu laksanakan, bagiamana Allah tidak akan jauh dari kita, kalau kita tidak mendekat, melakukan pendekatan, dan pendekatan kepada-Nya hanya bisa kita lakukan melalui jalur kegiatan ritual ibadah, Allah akan terlalu jauh apabila kita hanya membicarakannya lewaf filasafat dan renungan yang mendalam, tapi Allah akan dekat dan terasa hadir dalam hidup apabila kita dekati dengan pelaksanaan ibadah kepadanya. Tanpa pendekatan Allah akan menjauh.
Oleh sebab itu logika mengajarkan kepada kita berpayah-payah dulu, Inna ma’al Yusri Yusra (dibalik kesulitan, menunggu kemudahan), nikmat akan terasa, kelezatan hidupan baru akan terasa seelah kita jerih payah, bantin tulang, peras keringat.

Kedua,
Kamu baca Al-Qur’an, tapi ajarannya tidak pernah kamu amalkan, kamu baca Al-Qur’an tapi isinya kamu injak-injak, sehingga ada peringatan dari Rasul SAW. beliau bersabda :
Tiga peringatan keras, yang merupakan gejalan penyakit kita umat Islam, diperingatkan oleh Nabi kita:
Pertama :
Apabila umat ku telah mengagung-agungkan dunia, apabila umat ku telah jatuh menjadi umat yang materialistic, segalanya diukur dari sudut keduniaan saja
Maka akan dicabutlah dari mereka kehebatan Islam, hilang kehebatan Islam apabila kita jautuyh menjadi umat pengagung dunia, penyembah materi, keberadaan kita tidak dihargai orang. Orang memandang kita remah saja, karena kita menjadikan dunia tujuan, padahal dunia hanya alat, materi cuma alat, harta cuma alat.
Yang kedua:
“Apabila telah ditinggalkan amar ma’ruf dan nahyi munkar, maka hilanglah keberkahan wahyu” ini ada hubungannya dengan kita…kita baca al-Qur’an tapi kita tidak amalkan isinya, bagaimana hati tidak menjadi mati. Amar ma’ruf dan nahi munkar ditinggal orang…hilang keberkahan wahyu, pada saat itu boleh jadi Al-Qur’an ada, tapi cuma tinggal tulisan saja, Islam ada, tapi tinggal hanya nama saja, di seminarkan, di muktamarkan, tapi tidak pernah dijabarkan dalam kehidupan sehari-hari.

Peringatan ketiga dari Nabi :
Apabila umat ku sudah saling berbantahan, apabila umat ku sudah saling caci memaki, Jatuhlah mereka dalam pandangan Allah SWT.
Maka kita kembali kepada persoalan, hal kedua yang menjadikan hati jadi mati
Kita baca Al-Qur’an, tapi ajaran nyaris tidak kita amalkan di dalam kehidupan kita, akibatnya hati lalu jadi mati…itu yang kedua.
Yang ketiga, yang menyebabkan hati menjadi mati dan do’a tidak terjawab.
Kamu mengaku, kamu memproklamirkan diri sebagai umatnya Nabi Muhammad, tapi sunnahnya tidak pernah kau amalkan, malah perkambangan terakhir bukan mengamalkan sunnah, malah mengingkari sunnah (inkar sunnah.
Bagiaman hati tidak menjadi mati apabila tiap hari kita proklamirkan diri sebagai umat nabi Muhammad sementara sunnahnya kita campakkan dan kita ingkari. Padahal jikalau sekarang kita mengenal Islam, jikalau kita sekarang mengerti, tahu halal haram, bisa memilih antara yang ma’ruf dan yang munkar, itu semua karena jasa Nabi Muhammad SAW. Yang dari generasi ke generasi, dilanjutkan oleh para sahabat, oleh tabi’in, oleh tabi’in tabi’in, terus oleh para ulama-ulama sampai kepada kita sekarang ini. Walaupun beliau berfungsi sebagai penyampai tapi keperibadiannya dijadikan model oleh Allah SWT di dalam kita melaksanakan kehidupan beragama.
Di dalam diri Rasulullah itu, terdapat suri tauladan yang baik bagi kita, Oleh karena itu, pada pertemuan kali ini, apabila kita konsekuen mengaku umat Nabi Muhammad, mari konsekuen juga menegakkan sunnahnya.

Keempat : yang menyebabkan hati menjadi mati dan do’a tidak dikabulkan:
Tiap hari kamu makan nikmat Tuhan Mu, tapi kamu tidak mau bersyukur kepada-Nya kepada Allah SWT.
Tidak pernah sehari dan sesaat pun terlepas diri dan hidup ini dari nikmat-nikmat yang diberikan Allah, sejak kita tidur, bangun, dan tidur kembali bahkan tidur itu sendiri, di pasar, di sawah, di kantor, dimanapun kita berada tidak pernah nikmat Allah berhenti. Hidup kita di alam ini, diberikan kita fasilitas untuk menunjang kehidupan, tidak pernah Allah pasang pajak matahari, tidak pernah Allah pasang pajak gas udara. Nikmat-nikmat yang banyak itu, tiap hari kita nikmati, tapi kita tidak pandai bersyukur, padahal Allah swt memberikan peringatan keras dalam hadits Qudsinya.
Siapa yang tidak mau bersyukur terhadap nikmat yang Aku berikan kepadanya, dan tidak mau bersabar tehadap ujian yang Aku berikan kepadanya, silahkan keluar saja dari kolom langit ini, dan cari Tuhan selain Aku.
Diusir oleh Allah, kalau orang tidak mau bersyukur terhadap nikmat yang Aku berikan, dan tidak mau bersabar terhadap ujian yang aku timpakan, keluar dari kolom langit Ku, keluar…cari Tuhan selain Aku.
Diusir kita oleh Allah…kalau kita diusir dari Jakarta, kita masih boleh pindah ke Malang, diusir kita dari Malang boleh pindah ke Bandung, diusir kita dari Indonesia, bisa pindah ke singapur, Malaysia, diusir kita dari kolom langit, mau cari langit dimana.
Nikmat yang kamu makan, nikmat dari Ku, tapi kepada Ku kamu tidak bersyukur, keluar…keluar dari kolom langit Ku…dan cari Tuhan selain Aku.
Wajar…dulu kita tidak ada, sekarang ada…nikmat, susunan biologis manusi kita demikian cantik…nikmat, tinggal di bumi, fasilitas yang kita perlukan disediakan tinggal kemampuan kita mengelolanya…nikmat, diberikan kita otak yang membedajkan kita dengan binatang…nikmat, diberikan kita agama, diutus para Rasul untuk menjadi model dalam kehidupan kita…nikmat. Bukan cuma syukur dalam ucapan, tapi juga syukur dalam perbuatan, banyak nikmat yang diterima, makin banyak dia sujud, makin banyak rukuk, makin banyak dia mengdakan pendekatan kepada Allah. Syukur dalam artian tindakan dan perbuatan, mempergunakan nikmat sesuai dengan kehendak yang memberikan nikmat itu sendiri kepada kita.
Ini adalah penyakit yang keempat, kamu makan nikmat Tuhan mu, tapi kamu tidak pandai bersyukur kepada-Nya, bagaimana hati tidak jadi mati, dan do’a tidak dijawab.

Penyakit kelima sampai sepuluh, bisa kita jelaskan pada tulisan berikutnya, bahwa do’a kita tidak dijawab, dan hati kita mati dapat disimpulkan bahwa :
1. Kita kenal Allah, tapi kita tidak mau memenuhi haknya
2. Kita baca Al-Qur’an tapi kita tidak mau mengamalkan ajarannya
3. Mengaku sebagai umat Nabi Muhammad, tapi engga melaksanakan sunnahnya
4. Tiap hari kamu makan nikmat Tuhan Mu, tapi kamu tidak mau bersyukur kepada-Nya kepada Allah SWT.
Semoga kita tidak termasuk pada golongan yang empat tadi…amien, dan semoga Allah senantiasa memelihara diri kita, iman kita sehingga kita selalu pandai bersukur kepada-Nya. Wallahu a’lam bi al Showab.

Read More..

Jumat, 06 Agustus 2010

RAMADLAN DAN BUDAYA LOKAL

Merupakan suatu keharusan bagi setiap muslim berkewajiban untuk menjalakan puasa saat memasuki bulan Ramadlan yang merupakan bulan penuh berkah dan pensucian diri baik insan maupun harta. Sebagaimana yang Allah firmakan dalam AL-Qur’an :
              
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (QS. Al-Baqarah : 183)

Salah satu tujuan dari berpuasa adalah untuk meraih ketaqwaan. Taqwa yang sesungguhnya bukan tawqa dalam artian semu, tetapi lebih dari itu bahwa di bulan ramadlan ini banyak pelajaran hikmah yang terkadung di dalamnya apabila kita benar-benar menghayati dan berfikir hakikat dari pada disyariatkannya umat Islam untuk berpuasa sebulan penuh. Bagi orang awam yang tidak pernah menyimak akan hikmah yang terkadung di dalamnya puasa hanya sekedar menahan makan dan minum serta menjalankan ibadah ritual seperti ibadah sunnah shalat tarawih dan witir juga tilawah, selebihnya bisa dikatakan tidak sama sekali, karena itu kemudian ulama mendefinisikan bahwa ada tiga tingkatan orang yang berpuasa yang tentunya mempunyai efek terhadap kualitas puasanya yaitu puasa umum yang biasa dilakukan oleh orang awam yang hanya menahan lapar dan dahaga, kemudian puasa khusus yang bukan hanya menahan lapar dan dahaga ansih, tetapi juga seluruh anggota badan manusia juga berpuasa, dan yang ketiga adalah puasa khususnya khusus, artinya model puasa ii bukan hanya menahan lapar dan dahaga, seluruh anggota daban berpuasa tetapi hati juga berpuasa dari penyakit hati seperti riya’, sombong, dengki, hasud dan sebagainya.
Idealnya berpuasa itu adalah harus melakukan model puasa yang ketiga ini, supaya puasa kita berkualitas, setelah nanti selesai melaksanakan puasa sebelum penuh, maka akan terbiasa menjalankan hal-hal yang positif yang tidak menyakiti hati orang karena sudah digembleng satu bulan penuh untuk menjadi orang yang lebih baik dari sbelumnya, inilah termasuk orang beruntung, walaupun pahala puasa kita itu hak progatif Allah SWT, tapi kalau kita menjalankan sesuai dengan rambu-rambu syari’at Insya Allah semuanya akan berjalan sesuai dengan harapan.
Puasa di bulan Ramadlan termasuk juga ibadah ritual sunnah seperti sholat tarawih dan witir, yang sudah membudaya di masyarakat, bukan lagi merupakan ajaran tapi budaya yang mempunyai musim, dan jika kita tidak terlibat di dalamnya maka aneh bin ajaib, tentunya banyak ditemui macam-macam budaya khususnya di Indonesia apabila telah kita sampai pada bulan Ramadlan. Ramadlan diidentikkan dengan ritual, sehingga banyak orang muslim awam melakukan selamatan di awal bulan ramadlan sebagai salah satu bentuk tanda syukur telah sampai kepada bulan ramadlan, begitu juga setelah selesai bulan ramadlan tepatnya setelah keluar dari Sholat Ied masyarakat tertentu telah melakukan selamatan tanda perpisahan dengan bulan puasa.
Disamping itu juga tentunya banyak orang muslim yang berziarah ke makam-makam saudaranya, bapaknya, ibunya, kakek dan neneknya, sekalipun di luar bulan ramadlan juga ada yang melakukan tetapi tidak sebanyak di bulan ramadlan. Ini artinya bahwa bulan ramadlan dianggap sesuatu yang sakral dan sangat di tunggu-tunggu kedatangannya, karena itu tidak heran kalau ada orang yang menangis tatkala bulan ramadlan telah pergi, dan ada juga orang yang tertawa dan bahagia. Wajar jika anak kecil bahagianya karena detik-detik kepergian ramadlan pasti akan dibelikan baju baru oleh orang tuanya, bukan hanya anak kecil juga yang ingin baju baru, orang tuanya juga, bahka semua orang ingin pakai baju baru. Ini merupakan symbol bahwa ramadlan itu identik dengan baju baru.
Lain halnya lagi dengan serba serbi makanan yang dijual orang, kita bisa melihatnya disekitar kita, apalagi menjelang buka puasa banyak pemandangan yang lain dari pada yang lain, di kota-kota besar misalnya banyak kita temui di jalan-jalan orang menjajakan makanan buka puasa seperti ta’jil dan nasi dengan berbagai rasa, lain halnya lagi ketika menjelang perayaan Idul Fitri, ibu-ibu lagi sibuk wira wiri ke pasar untuk membeli berbagai macam makanan untuk dihidangkan saat lebaran tiba. Ini berarti juga Ramadan dan Idu l Fitri itu artinya makanan, identik dengan makanan dan pakaian, bukan Rasulullah SAW pernah mengingatkan para sahabatnya bahwa “laisal Ied liman la bisal jaded, wa la kinnal Ied Tha’atan Yazid” (Idul fitri itu bukan pakaian baru, Idul Fitri itu adalah keta’atan yang meningkat).
Tetapi bukan berarti bahwa budaya itu makanan dan pakain baru identik dengan bulan ramadlan itu harus ditiadakan, tetapi bagi orang yang berfikir dan mengambil hikmah dari budaya makanan dan pakain baru itu pasti akan mengatakan bahwa pakain baru itu symbol dari orang yang menjalankan ibadah puasa dengan tulus dan ikhlas jika nanti keluar di bulan ramadlan dia akan membuka lembaran baru dan mengubur lembaran lama yang penuh dengan noda dan dosa, karena itu budaya baju baru dan makanan menjadi budaya bagi umat Islam.
Kegiatan lain yang menjadi budaya di bulan ramadlan adalah mudik. Mudik sudah menjadi budaya tahunan bagi semua orang yang jauh dari sanak keluarganya. Tentu pula ramadlan mempunyai arti mudik, walaupun di luar pulang ramadlan kita juga sering mengunjugi sanak keluarga, tapi itu tidak dikatakan mudik, tapi kenapa kalau di bulan ramadlan saat orang mau nanya kepada kita, mudik kemana mas?. Kata mudik identik dengan Idul Fitri.
Ada lagi budaya di bulan ramadalan yang tidak kalah serunya yaitu bahwa 10 hari terakhir di bulan ramadlan banyak orang Islam sudah pindah terawih bukan lagi di masjid dan musholla dimana dia terus menjalankan sholat tarawih dan witir tetapi sudah pindah dari masjid ke terminal, dari masjid ke bandara, dari masjid ke pasar, dari masjid ke mall, dari masjid ke stasium, budaya ini nyaris setiap tahun terjadi dan sudah menjadi budaya. Semoga saja di bulan Ramadlan tahun 2010 ini kita bisa memilih dan memilah budaya mana yang bermanfaat dan mempunyai nilai plus bisa mendukung kualitas puasa kita. Walla hu a’lam bi al Showab.

Read More..

Minggu, 14 Maret 2010

BEASISWA S1 UNTUK SISWA TIDAK MAMPU SECARA EKONOMI TAPI BERPRESTASI

Peningkatan pemerataan akses studi (beasiswa) ke jenjang perguruan tinggi, bagi level pendidikan menengah yang terdiri atas lulusan SMA/SMK/MA/MAK atau bentuk institusi pendidikan lain yang sederajat, sampai saat ini masih banyak menyisakan masalah. Masalah dimaksud terutama pada wilayah pemerataan akses informasi terhadap sumber pendanaan kaitannya dalam rangka menjaring calon mahasiswa berprestasi relatif masih sangat terbatas. Tidak sedikit lulusan pendidikan menengah yang berprestasi dan merupakan calon mahasiswa potensial karena terbatasnya akses informasi, mereka selalu gagal menangkap peluang itu. Karena itu, mereka tidak dapat melanjutkan studi ke jenjang pendidikan tingkat tinggi dengan alasan berasal dari keluarga kurang mampu.
Sementara itu, masing-masing Perguruan Tinggi menyadari sepenuhnya, bahwa eksistensi dirinya di mata publik terletak pada kesanggupannya untuk menjalankan peran-peran kompetitif secara sehat, baik pada tingkat regional, nasional, maupun internasional. Dalam rangka menyongsong dan merealisasikan semangat itu, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, khususnya Fakultas Syari’ah UIN Maliki Malang bermaksud menangkap kebijakan Diknas tentang penyediaan Beasiswa Bidik Misi dengan merintis konsep kelas internasional pada tahun ajaran 2010 ini.
Upaya merintis kelas internasional itu dengan cara melakukan seleksi ketat kepada calon mahasiswa 2010 yang dipandang memenuhi syarat-syarat kualifikasi akademik berstandart internasional. Di antara syarat-syarat dimaksud antara lain 1) calon memiliki dua kemampuan berbahasa (Arab dan Inggris), baik pasif maupun aktif, 2) calon memiliki pemahaman kokoh terhadap ilmu-ilmu kesyariahan, 3) calon memiliki kemampuan untuk membaca dan memahami al-Qur’an dengan baik, 4) calon memiliki motivasi belajar tinggi.
Upaya ideal ini tentu sesuai dengan upaya pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi – Departemen Pendidikan Nasional tahun 2010 yang memiliki program peningkatan dan pemerataan mutu akademik dengan memberikan beasiswa dan biaya pendidikan bagi calon mahasiswa dari keluarga yang kurang mampu secara ekonomi dan berprestasi yang disebut Beasiswa BIDIK MISI.
Dana beasiswa dan biaya pendidikan yang diberikan adalah sebesar Rp 5.000.000 (lima juta rupiah) per mahasiswa per semester yang diprioritaskan untuk biaya hidup.
Persyaratan untuk mendaftar program beasiswa BIDIK MISI tahun 2010 adalah:
1. Siswa SMA/SMK/MA/MAK atau bentuk lain yang sederajat yang dijadwalkan lulus pada tahun 2010;
2. Berprestasi dan orang tua/wali-nya kurang mampu secara ekonomi;
3. Calon penerima beasiswa mempunyai prestasi akademik/ kurikuler, ko-kurikuler maupun ekstra kurikuler yang diketahui oleh Kepala Sekolah/ Pimpinan Unit Pendidikan Masyarakat (Dikmas) Kabupaten/Kota. Adapun prestasi akademik/kurikuler yang dimaksud adalah peringkat 25 persen terbaik di kelas, sedangkan prestasi pada kegiatan ko-kurikuler dan/atau ekstrakurikuler minimal peringkat ke-3 di tingkat Kabupaten/Kota dan harus sesuai dengan program studi yang dipilih.
Pendaftaran dimulai : Maret – 20 April 2010
2. Ujian/ Test 26 – 27 April 2010
4. Materi Test
TPA 26 April 2010
Al-Qur'an 26 April 2010
Membaca, memahami Bahasa Arab dan Bahasa Inggris dari Kitab-kitab klasik dan kontemporer 27 April 2010
5. Tempat Tes : Gedung UIN Maliki Malang Fakultas Syari'ah ruang SY 205, 206, 207.

Read More..

Minggu, 14 Februari 2010

MENJADI MANUSIA BERGUNA

Kadang kita menginkan sesuatu yang menurut kita memberikan kebahagiaan dan manfaat buat diri kita maupun orang lain, kadang pula keinginan itu menjadi khayalan yang tak berujung, sulit untuk menerka, mewujudkan dalam dunia nyata, kadang ide-ide kita hanyut terbawa arus, kadang terbang terhempas angin, kadang membeku menjadi gumpulan-gumpalan yang tak bisa kita bendung. Mimpi itu bukan hanya saat kita tidur, mimpi itu muncul dalam lamunan dengan membawa ide-ide cemerlang untuk menggagas hari esok yang lebih pasti, kadang itupun hanya ide-ide kosong tanpa makna.
Hidup ini akan berguna jika memberikan manfaat buat kita, keluarga dan tentunya orang lain. Tolong menolong dalam konsep agama sangat diperlukan. Jauh sebelum kita menganal agama sebagai ajaran, diri kita sudah di konstruk oleh budaya dan lingkungan bahwa kita tak akan hidup tanpa orang lain. Budaya tolong menolong dan gotong royong merupakan citra dan potret bangsa Indonesia, hingga akhirnya istilah “gotong royong” itu dijadikan sebagai model dalam kabinet pemerintahan Presiden Megawati Soekarno Putri. Hal ini mencerminkan bahwa budaya saling asah, asuh dan asih merupakan potret dari warisan leluhur yang harus dilestarikan dan dijaga keeksistensinya, jika itu tiada?, maka Bangsa Indonesia akan hilang jati dirinya sebagai bangsa yang besar dan berbudi luhur.
Kaitannya dengan hidup yang berguna Rasulullah sebagai panutan Umat Islam telah mewariskan ajaran ini kepada sahabat dan ulama yang kemudian di wariskan kepada pengikut dan umatnya, beliau bersabda “Sebaik-baik manusia adalah orang yang memberi manfaat buat orang lain”. Pesan moral yang sangat singkat ini mngandung arti dan makna yang mendalam bahwa hidup manusia selain bergantung kepada Allah SWT juga kepada manusia dalam artian saling tolong menolong dalam kebajikan dan ketakwaan. Inti ajaran Budha, Kristen, Hindu adalah tolong menolong dalam kebajikan untuk mdndapatkan kedamaian hidup di dunia dan di akhirat.
Berguna bagi manusia, kalau dia sudah mampu memberikan secuel harapan bagi orang lain untuk menatap hari esok yang lebih pasti, memberikan senyuman dan tawa ria kepada orang yang kesusahan menghadapi hidup, menolong orang (ringan tangan- kenyang perut) buat siapa saja yang memerlukan. Kadang pula kita hanya merenung, befikir dan berfikir terus tanpa ada jedah, merenugkan nasib yang tak tentu. Ingin rasanya kita membatu, meringankan beban orang, tapi kita tidak punya kemampuan untuk menolong, ingin rasanya berbagi suka dengan orang lain, tapi suka itu tidak pernah menghampiri, ingin rasanya menjadi orang yang serba ada, justru serba-serbi yang mengelilingi kita dengan bau sengat. Entah apa yang kita perbuat, untuk bisa berguna buat orang lain? [bersambung….]

Read More..

Selasa, 02 Februari 2010

PROFIL PULAU KU


Letak
Desa Tanjung Kiaok berada pada Kepulauan Sepanjang terletak di Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep, Propinsi Jawa Timur.
Pulau Sepanjang merupakan pulau besar di Kepulauan Kangean. Kepulauan Kangean merupakan gugusan puluapulau berjumlah 68 pulau yang membujur dari arah barat ke arah timur pada posisi 6o30’ – 7o13’ Lintang Selatan dan 115o10’ – 115o56’ Bujur Timur. Secara administratif Pulau Sepanjang masuk ke dalam wilayah Kecamatan Sapeken yang terbagi menjadi 9 desa, yaitu Desa Sapeken, Sakala, Tanjung Kiaok, Pagerungan Besar, Pagerungan Kecil, Sabunten, Paliat, Sasiil dan Sepanjang.
Pantai Pulau Sepanjang disebelah utara dikelilingi oleh coral reef, sedang pantai disebelah selatan langsung berhubungan dengan laut dalam. Daratannya landai dan rata sehingga memungkinkan hutan mangrove berkembang dengan baik. Hutan mengrove yang terdapat di P. Sepanjang tersebar di beberapa lokasi yaitu Pajang Barat, Segentong, Dermaga Sepanjang, Turunan Ceremeh, Calung dan Tarungguk.
• Sebelah Barat : Laut Jawa.
• Sebelah Utara : Laut Kalimantan
• Sebelah Selatan : Laut Bali
• Sebelah Timur : Laut Sulawesi

Demografi dan Matapencaharian
Penduduk Desa Tanjung Kiaok diperkirakan sekitar 5.000 jiwa dengan jumlah Kepala Keluarga sekitar 400 KK. Kebanyakan penduduk bermata pencaharian sebagai nelayan penangkap ikan hias dan dalam jumlah sedikit sebagai petani (berkebun) dan pedagang kecil. Nelayan sebagiannya bekerja sambilan sebagai petani kebun terutama pada waktu-waktu tertentu dimana tidak dapat melaut karena cuaca dan musim barat (Januari, Februari dan Maret). Pada umumnya nelayan mencari ikan disekitar perairan Teluk dan sebagian lainnya sebagai nelayan antar pulau.

Agama dan Budaya

Seluruh penduduk desa Tanjung Jiaok adalah pemeluk agama Islam. Sarana peribadatan di desa ini terdiri dari 4 buah masjid dan 3 mushalla.
Walaupun terdiri dari berbagai etnis yaitu Bajo, Madura, Jawa, Bali dan Bugis, sifat-sifat kekeluargaan dan gotong royong masyarakat masih cukup besar. Karena sebagian besar terdiri dari suku Bajo maka kegiatan kebudayaan yang dominan adalah budaya Bajo. Namun demikian budaya dan adat istiadat suku Madura, Jawa, Bali dan Bugis masih tetap eksis di daerah ini.

Pendidikan dan Kesehatan

Sarana pendidikan di desa Tanjung Kiaok cukup memadai terdiri dari Sekolah Dasar 2 buah, Madrasah 4 buah, dan Tsanawiyah. Akan tetapi jumlah penduduk terbanyak hanya berpendidikan sekolah dasar dan hanya sebagian kecil berpendidikan lanjutan.
Sarana yang ada di desa Tanjung Kiaok adalah puskesmas tetapi masyarakat nya juga mendapatkan pelayanan kesehatan melalui Puskesmas yang terdekat di desa Sepanjang dan Kecamatan Sapeken. Jenis-jenis penyakit yang sering dialami masyarakat di desa ini adalah demam, flu, muntaber dan penyakit-penyakit ringan lainnya seperti batuk dan sakit kepala.

Telekomunikasi
Sarana telekomunikasi cukup memadai terdiri dari 4 (empat) buah warung telekomunikasi (wartel) seluler dengan kemampuan komunikasi mulai dari lokal, Interlokal sampai Sambungan Internasional. Dengan demikian faktor komunikasi di desa Tanjung Kiaok cukup lancar.

Kelistrikan dan Air Bersih
Sarana penerangan listrik juga telah tersedia di daerah ini yaitu pembangkit Tenaga Diesel yang dikelola oleh pihak swasta dan sebagian besar masyarakatnya memiliki mesin diesel sebagai penerang.
Ketersediaan air bersih di daerah ini juga cukup memadai yaitu disuplay oleh PAM dan tersedianya sumur umum.

Keamanan
Kondisi keamanan di daerah ini cukup stabil. Tingkat kriminalitas cukup rendah . Hal ini didukung oleh adanya sifat-sifat toleransi dan gotong royong masyarakat setempat yang cukup tinggi. Sistem keamanan lingkungan juga tetap berlangsung.

Iklim
Seperti halnya daerah pantai lainnya, Desa Tanjung Kiaok dipengaruhi oleh musim barat dan musim timur. Pada waktu musim barat dengan angin kuat mempunyai curah hujan cukup, sekitar 3-4 bulan hari hujan. Sedangkan pada waktu musim timur dengan kecepatan angin rata-rata rendah sehingga mengalami kekeringan dengan temperatur udara dapat mencapai 29-30° C.

Kondisi Perairan
Hasil survey yang dilakukan menunjukkan bahwa Desa Tanjung Kiaok memiliki karakteristik yang unik dan kompleks. Data pengukuran pasang surut dengan perbedaan antara 1,5-2 meter, dengan ketinggian gelombang antara 0,3-0,8 meter, kecepatan arus berkisar antara 0,1-0,6 knot, tergantung dari cuaca dan musim.
Kondisi topografi dasar teluk juga tergolong kompleks dengan kedalaman terendah 0 meter pada saat air surut dan terdalam dapat mencapai sekitar 30 meter. Sebagian besar areal perairan memiliki kedalaman antara 2-10 meter pada saat air surut. Dasar perairan juga bervariasi terdiri dari pasir, pecahan karang, lapisan lumpur, berkarang dan berlamun (seagrass).
Walaupun perairan mengandung suspensi halus, daya tembus sinar matahari dapat mencapai dasar perairan, kecuali pada waktu musim barat.
Sifat-sifat oceanografi perairan lainnya seperti suhu, kadar garam, pH dan Bahan Organik Total (BOT) masing-masing berkisar antara 27,4 - 28,7° C, 31 – 36 permil, 8,16 – 8,17 dan 4,06 – 16,5 mg/ l. Kandungan hara terutama Pospat dan Nitrat perairan masing-masing berkisar antara 0,024 – 0,064 ppm dan 0,046 – 0,048 ppm.
Kondisi ekosistem perairan Desa Tanjung Kiaok juga tergolong kompleks karena terdiri dari perpaduan berbagai ekosistem yaitu ekosistem terumbu karang, ekosistem mangrove, padang lamun dan lagunan. Kondisi terumbu karang rata-rata sedang dan kondisi padang lamun masih tergolong baik. Sedangkan ekosistem bakau merupakan hamparan tegakan tipis yang berada pada sisi barat teluk dan Timur.
Kegiatan masyarakat yang menonjol di Desa Tanjung Kiaok ini adalah pencarian ikan hias laut, pemasangan jaring insang, pancing dan budidaya laut seperti budidaya keramba, rumput laut.

Read More..
Template by - Abdul Munir - 2008