Selasa, 24 Maret 2009

TAMBARU; EKONOMI KEPULAUAN TERANCAM

Memasuki musim hujan merupakan musim yang meluluhlantakkan perekonomian masyarakat kepulauan pada khususnya. Musim hujan juga membawa banyak peristiwa bahkan nyok johsan banyak menelan korban, sebut saja tanah longsor, banjir, pewasat jatuh, tabrakan, kapal tenggelam dan masih banyak peristiwa yang lain yang bisa kita ambil hikmahnya. Semua kejadian itu tidak terlepas dari suratan takdir Ilahi.
Semua peristiwa tersebut membuat efek yang sangat luar biasa di dalam perputaran roda perekonomian bangsa, tak terkecuali ekonomi masyarakat kepulauan yang notabene-nya berasal dari hasil laut sementara laut tidak bisa dikompromi tatkala hujan turun, bukan hanya hujan saja yang turun tetapi diiringi dengan angin yang kencang ombak yang besar yang membuah nelayan cuti melaut, hal semacam inilah yang membuat ekonomi masyarakat kepulaun terancam dan musim hujan yang diiringi dengan angin dan ombak yang tinggi dinamakan sebagai “tambaru”.
Tambaru adalah musim yang menghentikan masyarakat kepulauan untuk melaut yang pada intinya ekonomi keluarga akan terancam, kalau demikian masalahnya maka mayoritas masyarakat kepulaun akan “miskin” miskin dari aktivitas, miskin dari makan beras dan miksin dari uang (moneter), mungkin hanya orang-orang tertentu sebagaimana yang ditulis oleh minhazd tentang Ekonomi Sapeken di antara Musim Barat, Keynesian dan Ma Surebe. Tetapi masalah juga tidak terhenti sampai disitu, sampai kapan orang-orang yang menimbun harta sebanyak-banyak dan dikeluarkan tatkala peceklik datang, dia juga akan membutuhhkan orang-orang kecil (nelayan) untuk memasok barang mentah, lambat laun dia juga akan mersakan hal yang sama pada musim tambaru tersebut. Itulah realita yang terjadi yang harus menjadi perhelatan dan perhatian besar bagi dedengkot-dedengkot negara bahwa di seberang sana masih ada rakyat mu yang menjerit.
Kemudian lain halnya lagi dengan transportasi laut (kapal perintis) tujuan pulau Sapeken ke Sumenep dan Sapeken ke Banyuwangi juga mengalami cuti karena takut dengan ombak, akhirnya pasokan kebutuhan primer untuk masyarakat sapeken terhenti, di samping itu juga kungkin saja gaji untuk anak bangsa yang sedang menuntut ilmu di pulau jawa, sulawesi dan Sumatra akan terganggu, maka dari itu hiduplah dengan cara hemat…hehehe Ngajarin ni ceritanya.
Battiru nelo goresan ku itu danakan, masia nia tamoi sambuh ku jena lagi, masi pare anu na gores ku tentang Pulau Sapeken, barahtuane anuk dangkisit itu kole nambah wacana te, tapi bukan sekedar wacana….Wallahu a’lam bi al-Showab.

0 komentar:

Template by - Abdul Munir - 2008