Kamis, 14 Mei 2009

REBUTAN KEKUASAAN

Hidup kadang kala di atas dan kadang pula di bawah, dan semua itu adalah dinamika kehidupan yang sudah Allah swt atur dan merupakan scenario Tuhan Yang Maha Mengetahui. Manusia hanya bisa mengabdi dan meminta akan pertolongan Allah swt. Roda kehidupan akan selalu berputar sesuai dengan kehendak-Nya, dan Dia Allah telah menciptakan segalanya selalu berpasang-pasangan sebagai tanda akan kekuasaan Allah swt. Kadang-kadang manusia dibutakan mata hatinya untuk tidak memikirkan akan ciptaan Allah, baik yang tersirat maupun yang tersurat, bahkan nasib kita sudah Allah tentukan sebelumnya. Hidup memang misterius….of….problem.
“Dunia panggung sandiwara”. Kekuasaan kadang menjadi rebutan orang, tidak mesti di dunia politik yang notabenenya memang mengejar kekuasaan belaka, tetapi juga tentunya dalam ranah domestic, organisasi, pendidikan, dan bahkan dalam dunia binatang sekalipun, perebutan kekuasaan itu menjadi alternative utama untuk mengantur dan memanfaatkan orang atas nama kekuasaan.
Dalam ranah domestic, seorang suami misalnya semestinya menjadi pemimpin dalam rumah tangga kadang pula menjadi pembantu isteri, karena penghasilan isteri jauh lebih banyak dari pada suami, atau suaminya duduk manis di rumah, akhirnya jadi “suami-suami takut isteri” dan kekuasaan itu ada di tangan isteri. Dalam dunia pendidikan misalnya banyak kita lihat khususnya di perguruan tinggi, orang banyak mengejar jabatan dan kedudukan, entah itu menjadi rektor, pembantu rektor, dekan, pembantu dekan, ketua jurusan, sekrataris jurusan, dan kepala unit, dengan berbagai macam lobi dilakukan untuk meraih jabatan tersebut, kadang pula menghalalkan segala cara untuk mencapai kekuasaan. Ironis memang kalau dunia pendidikan dijadikan sebagai perebutan kekuasaan sesaat dengan meminta jatah kursi hanya satu periode dan seterusnya, tatkala menjadi memimpin maka kadang dia menjadi raja, rakyat harus tunduk pada ujung jarinya, dan bahkan menjadi serakah akan kekuasaan itu. Kalau demikian halnya maka potret dunia pendidikan akan menjadi buram baik bagi peserta didik, maupun bagi guru/dosen serta masyarakat, akhirnya mahasiswa melakukan demonstrasi menuntut bapak/ibu harus mundur dari jabatannya sebagai………dan seterusnya.
Perebutan kekuasaan itu tak perlu lagi, jadilah manusia yang santun, pemain yang bijaksana, gunakan politik santun, agar semua menjadi harmoni, jangan fitnah orang, dan jangan ancam orang, pula jangan benci orang karena dia tidak memilih kita, dan yang terpenting jangan provokasi orang untuk memilih. Budaya seperti itu adalah budaya penakut yang takut kalah. Tapi kadang pula kita menyadari bahwa setiap manusia memiliki naluri dan mental yang berbeda-beda, dan perberdaan itulah kadang membawa malapetaka dan kadang pula mendatangkan rahmah, tergantung pada kita untuk menentukan pilihan. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bi al-Showab.

0 komentar:

Template by - Abdul Munir - 2008