Sabtu, 16 Mei 2009

KESEDERHANAAN


Hidup yang serba-serbi memang watak manusia, yang tidak pernah merasakan puas dan tak pernah bersyukur akan kenikmatan Ilahi. Potret hidup yang demikian itu banyak kita jumpai disekitar kita, dan bahkan kalau kita prosentasekan 90 % tentunya dari jumlah penduduk planet bumi ini. Hidup yang serba-serbi bukan hanya dilakoni oleh kalangan kelas elit, tetapi juga sudah mencemari pada kelas-kelas sosial yang paling rendah dengan memaksakan kehendaknya untuk hidup seperti itu. Bahkan orang menilai hidup yang serba-serbi ini hanya dirasakan oleh orang yang punya harta banyak yang hidupnya di kota-kota, tetapi belum tentu orang yang punya harta banyak itu serba-serbi, atau bahkan orang menilai hidup serba-serbi itu adalah pergaulan anak remaja dan pemuda, juga belum tentu, karena orang tua masih banyak yang serba-serbi. Terus siapa orang yang serba-serbi itu???

Orang yang serba-serbi itu adalah orang yang tidak mau bersyukur akan karunia Allah yang tak pernah merasakan kepuasaan dalam hidupnya, akhirnya dia berusaha untuk serba-serbi. Sederhana memang solusinya, tetapi itulah realita yang ada. Ada beberapa indikasi orang dikatakan serba-serbi. Pertama, orang tak punya control hidup, kedua, orang punya control terbawa arus, ketiga, harta banyak, dan keempat, tidak punya planning jangka panjang. Itulah empat faktor yang membuat orang hidup serba-serbi.

Kita kembali pada topik bahasan tentang kesederhanaan yang tentunya punya kolerasi dengan serba-serbi tadi. Sederhana bukan berarti tidak punya apa-apa, dan bukan pula tidak modern, justru hidup yang sederhana dalam dunia modern seperti inilah pantas dikatakan modern. Kesederhanaan, kadang orang identikkan dengan serba kekurangan alias hidup pas-pasan, seperti itukah realitanya??? Apa pandangan Islam terhadap kesederhanaan ini?. Tinta emas sejarah Rasulullah SAW sebagai pembawa risalah kenabian telah memberikan contoh bagaimana orang menjadi bersyukur akan nikmat Allah swt.

Seorang Nabi yang punya isteri kaya raya, harta melimpah, tapi kehidupan Rasulullah tidak serba-serbi, hidupnya sederhana, rumah tempat beliau tinggal tidak seperti deretan rumah-rumah di jalan Ijen Malang. Rasulullah adalah sosok insan suri tauladan, bahkan dalam riwayat tatkala harta Khadijah (isteri Rasul) telah habis dikorbankan untuk memperjuangkan agama Islam dan menegakkan kalimat tauhid dan mengIslamkan kaum Jauhiliyah, akhirnya secara kasat mata Rasulullah tidak punya apa-apa, tapi beliau tetap sabar dan selalu bersyukur kepada Allah swt. kalau hari ini tidak ada sesuatu yang bisa di makan, Rasulullah memilih berpuasa, tapi kehidupan Rasulullah selalu rukun, sakinah dan bahagia di dalam kesederhanaan itu.

Sekilas cerita sejarah Muhammad Rasulullah saw, telah membuka mata hati kita untuk hidup dalam kesedernaan dan jangan berlaku boros dan menghamburkan harta tanpa ada manfaatnya, karena orang yang demikian itu adalah temannya syetan.

Kita mungkin banyak mendengar, membaca cerita para auliya’, sahabat-sahabat Nabi bahkan cerita Nabi yang lain yang hidup di dalam kesederhanaan, juga para ulama-ulama pewaris para Nabi, juga hidup dalam kederhanaan, tetapi selalu bahagia sampai akhir hayatnya.

Persepsi orang yang menidentikkan hidup sederhana pada miskin, itu salah total, karena orang yang punya harta juga bisa hidup sederhana, dan orang miskin juga bisa hidup serba-serbi dengan kemiskinannya. Jadi, kadang di desa-desa banyak kita saksikan “gubuk derita” penghuninya hidup dalam kesederhanaan, tetapi mereka bahagia dan serba kecukupan, cukup bagi mereka, tapi belum tentu cukup buat orang lain. Intinya kesederahanaan itu bisa dinilai oleh orang lain dan hanya dirasakan oleh yang merasakannya. Hidup dalam kesederhanaan itu adalah cita-cita para sufi, waliyullah dan para syuhada’ tentunya menjadi cita-cita kita semua. Hidup sederhana dalam limpahan nikmat dan karunia Allah swt akan menjadikan kita bersyukur. Semoga Bermanfaat. Wallahu a’lam bi al-Showwab.

0 komentar:

Template by - Abdul Munir - 2008