Sabtu, 11 April 2009

DAHSYATNYA ENERGI CINTA

Disaat kita membaca atau mendengar kalimat “cinta” maka terlintas di benak kita suatu keindahan yang hanya bisa dirasakan di hati. Cinta memiliki keterkaitan dengan hati, dan setiap kita merasakan cinta maka itulah suara hati. Namun yang paling sulit di pahami dan di kondisikan ketika cinta itu sudah dikuasai hawa nafsu dan ia tidak memperhatikan sebuah kebenaran dan bahkan menganggap kebatilan adalah sebuah kebenaran. Itulah dampak dari “cinta buta” yang tidak mendapat rahmat dari Sang Pemberi Cinta.
Shabat muda muslim, kenapa kita merasa senang dan bahagia kalau jatuh cinta? Menurut Robert Sternberg, cinta adalah sebuah kisah, kisah yang ditulis oleh setiap orang. Kisah tersebut merefleksikan kepribadian, minat dan perasaan seseorang terhadap suatu hubungan. Ada kisah tentang perang memperebutkan kekuasaan, misteri, permainan dan sebagainya. Kisah pada setiap orang berasal dari “skenario” yang sudah dikenalnya, apakah dari orangtua, pengalaman, cerita dan sebagainya. Kisah ini biasanya mempengaruhi orang bagaimana ia bersikap dan bertindak dalam sebuah hubungan.
Ketika jatuh cinta, kita tiba-tiba merasakan dorongan ingin bertemu dengan orang yang kita cintai. Dorongan itu bahkan sangat kuat menekan kita manakala ada orang yang membicarakan si dia, atau ada orang yang menyebut namanya, lebih lucunya lagi ketika membaca tulisan yang kemudian menuliskan sebuah nama yang sama dengan nama orang yang kita cintai. Kita jadi rindu berat ingin bertemu, atau sekedar ingin berkomunikasi dengannya.
Berbicara soal cinta, banyak yang mengartikan kata cinta itu sendiri. Ada yang berpendapat secara etimologi Mahabbah (cinta) berasal dari kata al-habab, yaitu air yang meluap setelah turun hujan yang lebat. Mahabbah adalah luapan hati dan gejolaknya saat di rundung keinginan untuk bertemu sang kekasih. Adapula yang berpendapat bahwa mahabbah berasal dari kata al-habbu artinya inti sesuatu, biji tanaman atau pepohonan dan asal muasalnya, dan masih banyak lagi pendapat yang lain yang tidak bisa penulis uraikan semua disini. Sedangkan menurut definisi penulis mahabbah adalah frekuensi hati atau terminologinya adalah getaran hati yang akan menghasilkan dua muatan positif (+) dan negatif (-), yang apabila getarannya untuk kebaikan maka akan menghasilkan kekuatan dan sebaliknya jika orientasinya untuk kemaksiatan maka akan menghasilkan kelemahan.
Dalam perspektif islam “cinta” adalah nikmat Allah yang besar selain keimanan dan kesehatan. Cinta harus mampu menyucikan akal, menyingkirkan kekhawatiran dan membangkitkan semangat, bukan sebaliknya, jadi lemah gara-gara cinta sebagaimana yang terdapat dalam kisah ‘Laila Majnun’ dan juga yang dialami Maria dalam Film Ayat-ayat cinta.
Seorang ulama’ besar, yaitu Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah dalam bukunya “Taman Orang-Orang Yang Jatuh Cinta dan Memendam Rasa Rindu” menyebutkan mahabbah (cinta) ada dua macam yaitu:
1. Mahabbatullah (cinta kepada Allah) dan
2. Mahabbah Lighairillah (cinta kepada selain Allah)
Cinta kepada selain Allah terbagi dalam tiga macam yaitu:
a) mencintai apa yang di cintai Allah SWT dan ini adalah masyru’ (bagian dari syari’at), seperti cinta Rasul, jihad, dakwah dan sebagainya.
b) cinta untuk Allah dan di jalan Allah yaitu mencintai sesuatu yang hukum asalnya mubah tapi apabila di lakukan untuk Allah dan di jalan Allah maka akan bernilai ibadah.
c) cinta yang di jadikan tandingan atau saingan Allah. Hal ini adalah termasuk syirkiyah (kemusyrikan), seperti cinta syahwat, dunia, harta, tahta, wanita dan sebagainya.
Ketika seseorang merasakan jatuh cinta, maka akan menimbulkan sebuah gaya yang kalau kita analogikan dalam sebuah rumus fisika gaya coloumb yaitu:

Q1.Q2
F = k
r2

1. Cinta adalah ketetapan, artinya rasa cinta yang dimiliki seseorang adalah fitrah (sunnatullah) atau suatu anugerah yang diberikan Allah kepada kita dan tidak boleh disalah gunakan.
2. Salah satu antara muatan pertama dan kedua pasti memiliki tanda yang berlawanan yaitu positif (+) dan negatif (-), sehingga gaya bersifat tarik menarik. Artinya ketika seseorang sedang jatuh cinta pasti disana ada iman (+) dan nafsu (-), yang mana keduanya saling tarik menarik. “iman” mengajak kepada kebenaran dan “nafsu” mengajak kepada kemungkaran, tergantung lebih besar mana antara muatan iman dan nafsu.
3. Jarak sangat menentukan besar tidaknya gaya yang dihasilkan. Ketika seseorang cinta kepada kebaikan dan jarak menuju kebaikan itu diperkecil atau semakin dekat maka gaya yang dihasilkan akan semakin besar dan kuat. Gaya itu adalah ‘gaya keimanan’, misalnya kedekatan atau keterikatan kita terhadap masjid.
Untuk mengetahui seseorang sedang jatuh cinta dan energi yang dihasilkan kuat atau tidak maka kita bisa mengetahuinya dengan ciri-ciri sebagai berikut, antara lain:
1- Katsratu dzikrihi, yaitu banyak menyebut nama yang dicintai
2- As-Syauq (rindu). Seseorang dikatakan jatuh cinta, jika ia merasakan kerinduan dihatinya dan merasa gelisah jika tidak bertemu dengan yang dicintai. Kalau kita merasakan sangat merindukan-Nya ketika beberapa saat kita merasa jauh dari-Nya, subhanallah betapa indahnya hidup ini.
3- Al-Buka’ (menangis). Seseorang akan menangis jika kehilangan orang yang dicintai dan ia akan merasa sedih jika yang dicintainya marah kepadanya. Inilah yang perlu kita waspadai ketika Dia sudah menampakkan kemurkaan-Nya kepada kita dengan bencana yang kita lihat disekitar kita.
4- As-Syajaa’ah (kekuatan atau keberanian). Inilah sesungguhnya salah satu kekuatan yang tidak bisa tertandingi manakala cinta sudah tertanam sangat kuat di dalam hati seseorang terutama cinta kepada Sang Pemberi Cinta yang kekuatannya tiada yang dapat mengalahkannya. Inilah cinta abadi yang dinanti-nanti oleh setiap umat islam.
Sesungguhnya energi cinta terbesar adalah pancaran cinta dari Sang Pencipta yang tiada seorangpun dapat mengalahkannya hingga dalam sebuah riwayat dikatakan, seorang Mu’addzin di masa Rasulullah yaitu Bilal bin Rabbah disiksa oleh Tuannya diterik matahari tapi yang selalu terlontar dari mulutnya adalah kalimat tauhid sebagai bukti betapa besar pengabdian dan cintanya kepada Tuhannya. Itulah dahsyatnya energi cinta yang tidak bisa menggoyahkan iman seseorang walau dengan siksaan apapun sekalipun maut sebagai taruhannya.

“Jatuh cintalah ketika cinta itu bernilai ibadah. akan tetapi jangan berfikir jatuh cinta jika ia hanya menyebabkan kegelisahan, keresahan yang mendorong kepada perbuatan sia-sia dan maksiat kepada Allah”

0 komentar:

Template by - Abdul Munir - 2008