Rabu, 15 April 2009

BAHAGIA; HALAL & CINTA

Semua orang ingin meraih kebahagiaan, baik kebahagiaan dunia maupun kebahagiaan akhirat. Rasulullah SAW. bersabda; “jika kamu ingin raih kebahagiaan dunia haruslah dengan Ilmu, jika kamu ingin kebahagiaan akhirat raih juga dengan Ilmu, dan jika kamu ingin bahagia kedua-duanya raih pula dengan Ilmu”. “al-Ilm” adalah tolok ukur manusia bahagia atau tidak, tapi kenyataannya bagaimana? Mari kita kupas tentang bahagia ini dalam berbagai perspektif ilmu sebelum kita bincang-bincang tentang “halal bagi mu”.
Pembahasan masalah bahagia sudah saya singgung dalam blog ini dengan tema “Jika Ingin Bahagia Jangan Jadi Polisi” tapi saya tidak senggolkan kata bahagia itu dalam ranah ilmu sebagaimana yang disabdakan Rasulullah SAW.
1. Bahagia Perspektif Sosial tanpa Politik
Jika kita pergi ke pasar misalnya, kita banyak menjumpai orang yang tersenyum bahagia, tersenyum dalam berbagai bentuk, ada senyum menyapa, senyum tersiput, senyum menggoda, senyum tawaran, senyum sedih, senyum marah, senyum bahagia, dan senyum erotis. Rasulullah SAW mengatakan: “senyum adalah Shodakah” jika senyum itu bermakna menyapa dan membahagiakan orang. Tapi kadang-kadang kita melihat ada orang yang senyum sendiri tanpa ada sebab yang membuat dia tersenyum. Orang yang seperti itulah dalam masyarakat disebut orang gila dan stress.
Senyum adalah simbol kebahagiaan. Di masyarakat, kita melihat tatkala orang mendapatkan rizki yang banyak, baik itu berupa harta, tahta dan kedudukan, maka kebahagiaan itu akan diekspresikan lewat senyum dan keharuan. Itulah model bahagia secara social yang diekspresikan oleh banyak orang di lingkungan kita.
2. Bahagia Perspektif Tasawuf
Bahagia dalam kalangan sufi bukan dengan senyum, tetapi bagaimana dia memperoleh kebahagiaan itu lewat khusu’nya beribadah kepada Allah, bagaimana dia bisa mendapatkan dan merasakan lezatnya Iman dalam sholat dan bertemu dengan Allah. Orang Sufi tidak doyan dengan gemerlapan dunia, tidak bahagia dengan tumpukan harta dan segudang emas. Kebahagiaan yang hakiki bagi mereka adalah kebahagiaan tatkala mereka mencapai tingkat ibadah yang teratas yaitu Ma’rifatullah.
3. Bahagia Perspektif Psikologi
Dulu saya punya teman namanya Ahmad Baha Basi, teman satu kelas bangku SMP, orangnya GR-an dan PD habis…jika ada cewek yang tersenyum padanya katanya cewek itu jatuhnya cinta padanya, belum tentu cewek tersenyum itu jatuh cinta! bisa saja si cewek tersenyumnya karena gayanya, atau karena hal lain. Basi sendiri dengan kondisi seperti merasa bahagia dan kebahagiaan itu diekspresikan dengan menceritakan pertemuannya dengan cewek itu kepada teman-teman dengan wajah bahagia dan berseri-seri.
4. Bahagia Perspektif Mahabbah
Mahabbah secara definitive adalah cinta, tapi mahabbah banyak digunakan oleh kaum sufi karena cintanya kepada Allah SWT. Tetapi bagi kaum mayoritas kata mahabbah tidak pernah kita dengar selain kata cinta, sekalipun antara cinta dan mahabbah adalah satu makna, tapi bagi mereka (mayoritas) tatkala menggunakan kata mahabbah terlalu formal.
Secara umum orang akan bahagia jika mereka jatuh cinta pada seorang gadis dambaan hati tautan jiwa, kadang pula cinta itu diekspresikan dalam bentuk pengorbanan, baik pengorbanan harta, waktu, bahkan nyawa melayang. Kenyataan yang ada kadang pula yang haram dihalalkan dan yang halal diharamkan. Kecendrungan seseorang yang cinta berat pada seorang gadis akan menghalalkan segala cara, tentunya belum ada ikatan resmi pernikahan.
Cinta yang tak bermakna selain cinta itu kadang pula dikotori dengan hal-hal yang berbau pornografi dan macam-macam, akhirnya makna cinta itu akan berubah menjadi nafsu. Lagi-lagi nafsu menjadi korban. Allah SWT sudah menyiapkan wadah dan tempat yang halal bagi umat manusia tapi kadang pula tempat yang halal itu di kotori oleh perbuatan yang haram. Misalnya jika ada dua insan lain jenis jatuh cinta maka sebaiknya cinta itu diekspresikan melalui pintu halal yaitu pernikahan, karena pernikahan adalah tempat menyalurkan sesuatu yang halal untuk mencapai ketenangan, kebahagiaan dan merajut kasih sayang. Saya berharap semoga yang halal itu selalu menghapiri hari-hari kita, dan selalu berusaha untuk menjauhi sesuatu yang diharamkan. Katakan pada mereka bahwa “aku ingin menjadi orang yang halal bagi mu”. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bi al-Showab.

0 komentar:

Template by - Abdul Munir - 2008