Selasa, 12 Juli 2011

RENUNGAN; BILA AJAL TIBA

Sudah menjadi keyakinan dalam kehidupan kita, bahwa segala yang ada permulaannya, tentu akan ada penghabisannya, setiap yang punya awal, mesti akan punya akhir, tidak ada keabadian dalam kehidupan dunia ini, semuanya datang dan pergi silih berganti, berubah oleh pergeseran masa dan pertukaran waktu. Demikianlah kalau kita mau merenungi dari alam di sekitar kita, sejak dari kehidupan tumbuh-tumbuhan, binatang, sampai kepada kehidupan kita, makhluk bernama manusia.
Lihatlah kita manusia misalnya, dimulai sejak kita terlahir ke alam ini, keluar dari rahim ibu, menjadi bayi yang merah tidak berdaya, untuk kemudian berangsur meningkat menjadi anak-anak. Dari kehidupan anak-anak berubah kita lagi menjadi remaja, dengan segala keceriaan dan kelincahannya, dan dari masa remaja, naik lagi kita memasuki usia dewasa, untuk kemudian berangsur memasuki hari tua.
Lalu… setelah kita memasuki hari tua, sehari, seminggu, sebulan, setahun, sampailah kita kepada batas waktu yang telah ditentukan oleh Allah, yang dinamakan ajal dan bertemulah kita dengan yang disebut maut. Ini merupakan kepastian dalam kehidupan.
Kalau saja kita mau merenung, perubahan-perubahan yang terjadi pada diri kita, seharusnya membuat kita insaf dan sadar. Bila maut sudah menjemput kita, apakah selesai sampai disitu, belum. Kalau lahir merupakan perpindahan hidup dari alam rahim ke alam dunia, maka mati hakikatnya perpindahan hidup dari alam dunia ini ke alam kehidupan berikutnya yang dinamakan alam barzah.
Andai kata hidup cuma sekali, secara moral kita sanggup berkata, alangkah tidak adilnya Tuhan, kenapa? Dalam kehidupan ini kan… aneka ragam terjadi, ada orang dzlaim, ada orang yang didzalimi, ada orang yang membunuh, ada orang terbunuh, ada orang yang kaya, ada orang miskin, ada orang yang jujur, ada orang yang menghalalkan segala cara, sehingga banyak ketidakadilan yang terlepas dari pengadilan dunia. Andai kata hidup cuma sekali, tidak ada hidup setelah hidup yang sekarang ini, bagaimanakah nasib mereka yang lepas dari pengadilan dunia ini. Alangkah tidak adilnya Allah, andai kata tidak ada kehidupan setelah hidup sekarang ini, tentulah akan terjadi, dimana orang akan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, yang penting kan… saya kaya, yang penting kan… saya punya kedudukan tinggi, kalau perlu jilad atas, sikut kiri-kanan, kalau perlu injak orang bawab, injak yang bawah. Ini perinsip orang komunis, dan pantas…, karena mereka tidak percaya kepada kiamat, pantas…karena mereka tidak percaya kepada hidup sesudah hidup yang sekarang.
Sebagai muslim yang percaya bahwa kiamat pasti ada, akhirat pasti ada, hidup hanya cuma sekali, maka kalau kita dzalim, kalau kita berbuat aniyaya, kalau kita melakukan korupsi, kalau kita merugikan orang lain, boleh jadi kita terlepas dari pengadilan dunia, tapi ingatlah bahwa kita tidak akan pernah lepas dari pengadilan Allah, pengadilan Qodhi Rabbul Jalil, dimana kita akan diadili seadil-adilnya, dan tidak ada perbuatan salah yang bagaimanapun kecilnya tidak akan lepas dari pengadilan di akhirat itu nanti.
Pantas saja…. kalau suatu hari malaikat jibril dating menesehati Rasulullah SAW, yang artinya juga menesehati kita semua. Apa kata malaikat jibril kepada Baginda Nabi.
يَا مُحَمَّدْ إِسْمَ شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ
Hai… Muhammad hiduplah semau kamu, tapi jangan lupa, kamu pasti akan mati, Dan mati itu bukan akhir segalanya, dia babak baru bagi kehidupan selanjutnya, silahkan hidup menurut mau mu, tapi jangan lupa kau pasti akan mati.
وَعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌ بِهْ
Kerjakan apa saja yang kau mau, (kalau kau menghalalkan segala macam cara, persilahkan kau kerjakan), tapi jangan lupa kau akan mendapatkan balasan dari seluruh amal perbuatan mu.
وَأَحْبِبْ ماَ شِئْتَ فَإِنَّكَ مُفَرِّ قُهُ
Dan cintailah apa yang mau kamu cintai, (kau cintai anak-istri mu, silahkan..., kau cintai harta-benda mu, silahkan..., kau cintai pangkat dan jabatan mu, persilahkan...), tapi jangan lupa, kau pasti akan berpisah dan meninggalkan segala apa yang kau cintai itu.
Apa artinya ini buat kita, ternyata setelah maut menjemput kita, ada kehidupan setelah hidup sekarang ini. Setelah kiamat datang, kau akan diminta pertanggung jawab setelah kehidupan sekarang ini.
Oleh karena itu, kehidupan akhirat bukanlah dongeng dan tahayul, bukan khurafat dan hayalan. Kehidupan akhirat, hari kiamat adalah kebenaran dan kepastian. Dalam surah al-Hajj ayat ke 7 Allah SWT menyatakan :
Artinya : “Dan Sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya; dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur”
Nah….. kalau kita sudah yakin, bahwa kiamat sesuatu yang pasti adanya, akhirat sesuatu yang pasti adanya, dari mana pembicaraan kiamat itu kita mulai, tentu dari kita. Marilah kita memulai merenungi dari proses hidup ini, sampai kita memasuki kiamat,
Tidak ada makhluk secantik manusia, dari seluruh makhluk yang diciptakan Allah itu, manusia fi ahsani taqwin (dalam bentuk yang paling sempurna), dari susunan biologis, sampai kemampuan berfikir. Kesempurnaan hidup manusia di topang oleh dua unsur pokok, perama: unsur jasmani, dan kedua: unsur rohani (jasad dan roh). Jasad kita, kalau sudah ditinggalkan oleh ruh, tidak bisa berbuat apa-apa.
Muslim dianjurkan banyak-banyak mengingat mati dalam kehidupan, mengingat mati sesungguhnya akan mendorong manusia untuk bekerja lebih tekun, sebagaimana yang dicontohkan oleh Umar bin Khattab, tatkala ada perintah untuk berhijrah…..
Apa yang membuat orang takut mati, (1) dia tidak tahu bagaimana kehidupan setelah mati (alam kubur gelap, alam kahirat gelap) sehingga dia bingung, kemudian takut. (2) boleh jadi karena bayang-banyangan dosa yang pernah dia kerjakan di dunia ini, dia tertawa, bahagia diatas tumpukan dosanya, merasa segan berpisah dengan kehidupan ini, sehingga, boleh jadi maut merupakan sesuatu yang ditakutkan benar adanya dalam kehidupan. Tapi bagaimana pun takutnya, tidak ada tempat lari dari maut.
Dalam ayat lain Allah SWT menjelaskan :
أَيْنَمَا تَكُنُوْ يُدْرِكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْكُنْتُمْ فِي بُرُجٍ مُسَيَّدَهْ
Artinya : “Dimana saja kamu berada (dalam benteng yang paling tangguh sekalipun) maut pasti akan datang menjemput kamu”
Nah… Bagaimana caranya maut menjemput kita? Bila datang dia, sang malaikat pencabut nyawa, malaikat Izrail namanya, hendak mengambil ruh kita. Dalam kondisi seperti itu, terbagilah manusia dalam dua bagian besar, pertama, yang menghadapi sakaratul maut itu dengan Husnul Khotimah (baik diakhirnya) sehingga pada saat ruh tatkala berpisah dengan jasadnya, kelihatan dia seperti senyum, mukanya cerah, bahkan sebelum itu boleh jadi dia sempat meninggalkan pesan-pesan yang baik, ada yang sempat baca tahlil, ada yang sempat baca al-Qur’an, sekalipun demikian, saat ruh mau keluar, sakitnya tiada tara. Rasulullah SAW dikala beliau hendak berhadapan dengan sakaratul maut, diceritakan “mencelupkan tangannya ke dalam gelas berisi air, lalu mengusapkannya ke mukanya, seraya berdo’a : Ya Allah mudahkan saya dalam mengahdapi sakarat ini. Beliau juga mengatakan bahwa sakitnya sakaratul maut sama dengan 300 kali bacokan pedang, sehingga kita diajarkan do’a, diantara do’a selamat “Allahumma hawwin alaina fi sakaratil maut” (Ya..Allah mudahkan saya dalam menghadapi sakaratul maut itu). Tatkala ruh mau keluar dari jasad, mata masih mengikuti ruh itu.
Adapun golongan kedua tatkala berhadapan dengan sakaratul maut mendapatkan Syu’ul Khotimah (jelek diakhirnya). Setelah ruh berpisah dari badan, maka tinggallah jasad, ditangisi oleh orang yang kita tinggalkan, sehingga kepada putrinya Fatimah Rasulullah SAW, tatkala mau dijemput oleh malaikat maut, beliau berkata kepada putrinya: “Fatimah…kamu tahu siapa yang datang, Fatimah menjawab saya tidak tahu abah…yang datang itu Haadzimul Lazza (itu dia yang menghacurkan seluruh kesenangan dunia) wa qati’u syahwat (yang memisahkan kita dengan seluruh yang kita cintai), dia malaikat maut Fatimah.
Diuruslah jasad kita, dimandikan, sebagaiman mestinya, dikafani dengan kain putih tiga lembar, itu yang kita bawa kembali ke tempat asal kita, harta yang banyak, isteri yang cantik, anak yang lucu, tidak ada yang menyertai kita, kain putih 3 lembar saja, diiringkan kita ke arah kiblat, orang mensholati kita, kemudian upacara pelepasan, berangkat kita meninggalkan anak, isteri, suami, kampung halaman, tanah air, bahkan alam dunia ini. Selamat tinggal alam beserta isinya, saya akan kembali ke tempat asal saya, dan akan mempertanggung jawabkan semua perbuatan yang saya lakukan di alam dunia ini.
Manakala upacara pelepasan selesai, selesailah sudah…dimasukkan kita ke keranda jenazah, dibawalah kita ditempat peristirahatan terakhir…yang luasnya tidak lebih dari 2 x 1 meter. Gumpalan tanah akan menjadi bantal kita, dibaringkan kita kearah kiblat. Orang-orang akan pulang ke rumahnya masing-masing, masuklah kita ke alam selanjutnya yaitu alam barzah atau alam kubur, apa selesai hidup sampai disitu “tidak”.
Semoga Allah SWT senantiasa menyayangi kita, memberikan tempat yang terbaik disisinya, dan semoga di akhir hayat kita nanti menjadi Husnul Khotimah, ditempatkan pada tempat yang terbaik dan dikumpulkan bersama orang-orang yang dicintainya. Amien Ya Rabbal ‘Alamien.

0 komentar:

Template by - Abdul Munir - 2008